Di Balik Nama Besar: Fakta Menarik Kehidupan Pribadi Syaikhona Kholil
Syaikhona Muhammad Kholil, ulama kharismatik dari Madura, dikenal luas sebagai guru para kiai pendiri Nahdlatul Ulama. Di balik pengaruhnya yang masif dalam sejarah Islam Nusantara, terdapat fakta-fakta menarik mengenai Kehidupan Pribadi beliau yang jarang diketahui publik. Beliau lahir di Bangkalan pada sekitar tahun 1835 M dan dididik secara ketat sejak kecil oleh ayahnya, KH Abdul Latif, yang masih memiliki garis keturunan dari Sunan Gunung Jati.
Salah satu kebiasaan unik beliau saat menuntut ilmu adalah memanfaatkan baju putihnya sebagai alat tulis. Syaikhona Kholil muda akan menulis seluruh catatan pelajaran di bajunya. Setelah berhasil menghafal semua yang tertulis, beliau baru mencuci baju tersebut. Kebiasaan ini menunjukkan tingkat ketekunan dan kecintaan luar biasa beliau terhadap ilmu.
Mengenai Kehidupan Pribadi dalam hal makanan, beliau dikenal memiliki kebiasaan yang tidak biasa. Selama menimba ilmu di Mekkah, Syaikhona Kholil sering kali lebih memilih memakan kulit semangka daripada makanan lain yang umum dimakan. Sikap ini mencerminkan konsep zuhud atau menjauhi kemewahan duniawi, yang beliau tanamkan kuat pada diri dan santri-santrinya.
Syaikhona Kholil menjalani Kehidupan Pribadi yang mandiri, terutama saat belajar di Mekkah. Dikisahkan bahwa beliau tidak pernah dikirimi uang dan memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan menjual karya tulisnya, seperti kitab Alfiyah Ibnu Malik yang ditulis tangan. Kemandirian finansial dan spiritual ini menjadi teladan penting bagi para santrinya.
Dalam aspek rumah tangga, Syaikhona Kholil diketahui memiliki beberapa istri. Meskipun memiliki banyak istri, hanya empat di antaranya yang menurunkan keturunan. Istri pertama beliau, Nyai Assek binti Lodrapati, dinikahi sebelum beliau berangkat ke Mekkah pada usia 24 tahun. Kehidupan Pribadi yang panjang (wafat pada usia sekitar 90 tahun) menjadi salah satu alasan beliau beberapa kali menikah.
Beliau juga dikenal sebagai ulama yang dekat dengan masyarakat. Meskipun memiliki ilmu agama yang sangat mendalam dan menjadi mursyid tarekat, beliau tidak hanya berada di lingkungan pesantren. Syaikhona Kholil sering turun langsung ke masyarakat untuk mengetahui kondisi mereka, menunjukkan sifat kepemimpinan yang merakyat dan mengayomi semua kalangan.
Aspek Kehidupan Pribadi Syaikhona Kholil yang tak kalah penting adalah keikut sertaannya dalam organisasi tarekat, yang membuktikan beliau adalah seorang ulama sufi. Konsep zuhud yang beliau ajarkan dan praktikkan, kini masih dianggap relevan dengan kehidupan modern, menekankan pentingnya moralitas dan pengabdian.
Fakta-fakta ini melengkapi gambaran sosok Syaikhona Kholil, bukan hanya sebagai guru besar yang melahirkan ulama-ulama ternama, tetapi juga sebagai individu dengan Kehidupan Pribadi yang penuh keteladanan, ketekunan, dan kesederhanaan. Dedikasi beliau menjadikannya Pahlawan Nasional pada tahun 2025
