Kultum Singkat: Pentingnya Menjaga Lisan di Era Komentar Netizen
Di tengah ledakan informasi digital, fenomena menjaga lisan menjadi tantangan moral yang sangat berat bagi masyarakat modern. Jika dahulu lisan identik dengan ucapan verbal, kini lisan bertransformasi menjadi ketikan jari di kolom komentar media sosial. Sering kali, tanpa sadar kita melepaskan kata-kata yang menyakitkan, menyebarkan fitnah, atau menghakimi orang lain hanya dalam hitungan detik. Padahal, dalam ajaran agama, setiap kata yang keluar baik melalui suara maupun tulisan akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Sang Pencipta secara detail.
Prinsip utama dalam menjaga lisan adalah menyaring informasi sebelum membagikannya. Di era komentar netizen yang cenderung reaktif, penting bagi kita untuk memiliki daya kritis dan empati. Sebelum mengetik sebuah komentar, bertanyalah pada diri sendiri: “Apakah ucapan ini benar? Apakah ucapan ini bermanfaat? Dan apakah ucapan ini menyakiti orang lain?” Jika salah satu jawabannya adalah tidak, maka diam adalah pilihan yang jauh lebih mulia. Diam bukan berarti kalah, melainkan bentuk kemenangan atas ego pribadi yang ingin selalu terlihat benar atau lebih unggul dari orang lain di dunia maya.
Selain itu, upaya menjaga lisan juga berdampak langsung pada kesehatan mental kita sendiri. Orang yang terbiasa berkomentar negatif atau mencela biasanya memiliki tingkat stres yang lebih tinggi karena hatinya selalu dipenuhi dengan prasangka buruk. Sebaliknya, dengan membiasakan diri bertutur kata baik atau memberikan apresiasi yang tulus, kita sedang membangun energi positif dalam jiwa kita. Energi ini akan membawa ketenangan batin yang luar biasa, sehingga kita tidak mudah terpengaruh oleh kebencian yang bertebaran di internet. Kesalehan digital adalah cerminan dari kesalehan hati yang sesungguhnya.
Di tahun 2026 ini, mari kita jadikan platform digital sebagai ladang amal dengan cara menebar komentar yang membangun dan menyejukkan. Menjadi menjaga lisan berarti berani memutus rantai perundungan siber (cyber bullying) dan hoaks. Ingatlah bahwa sebuah komentar pendek yang kita tulis bisa berdampak besar bagi kehidupan orang lain, baik itu menjatuhkan mentalnya atau justru memberikannya semangat baru. Mari kita lebih bijaksana dalam menggunakan jempol kita agar apa yang kita tinggalkan di dunia digital menjadi warisan kebaikan, bukan menjadi saksi pemberat bagi kita di hari pembalasan kelak.
